Rabu, 20 Oktober 2010

Bosan Dahulu Senang Belakangan



Pada awalnya sekolah di SD Antonius 02 memang membosankan, tapi lama kelamaan seiring berjalannya waktu, ternyata tetap membosankan. Mengapa bisa membosankan?? Padahal dibanding Batam, Semarang lebih nyaman buat dihinggapi. Kalau sempat curhat pada orang lain, pasti jawaban yang didapat adalah,”sudahlah, itu nasibmu” sebuah jawaban yang dilontarkan apabila pikiran sedang buntu. Namun setelah mengadakan penelitian lebih lanjut oleh pihak berwajib, ternyata bukan hanya faktor nasib saja, faktor bahasa lah yang paling berpengaruh.


Betapa susahnya buat ngobrol sama anak yang lain di minggu minggu awal. Sebagian besar dari mereka menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar, bukan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Aku pun teringat ketika di Batam dulu, seorang teman Chinese ku ngobrol dengan sesama Chinese menggunakan bahasa Mandarin, dan yang bisa aku lakukan hanya memajang wajah cool dan berkata, ”ngomongin apaan sih??”. Sama halnya dengan di Semarang. Kalau ada yang ngobrol pake bahasa Jawa, yang bisa kulakukan adalah memajang wajah tampan dan berkata,”ya, wajahku memang tampan.”


Walaupun hanya ada satu kendala, tapi ketika menyangkut penggunaan bahasa, bisa mempengaruhi segalanya. Karena kendala bahasa inilah aku sampai gak punya teman sepermainan diawal awal bersekolah. Pas lagi istirahat, anak-anak yang lain pada pergi ke kantin, sementara aku hanya berdiam diri dipinggiran sambil menatap langit dan berkata,”kejamnya dunia.” begitulah yang terjadi dari istirahat ke istirahat. Hingga suatu ketika entah mengapa, seorang anak (nama disamarkan karena lupa) mengajakku ke kantin, mungkin karena merasa iba dan gak tega ngeliat sekolahnya kedatangan gembel kesepian kayak aku gini. Dan untuk pertama kalinya aku mengeluarkan uang jajanku yang dari kemaren mendekam dikantong sampai membusuk..


Setelah kejadian itu, uang jajanku satu persatu lari terbebas dari penjara kantong ku, dan perut pun bersorak sorai bergembira kedatangan amunisi makanan. Hal tersebut juga membuat otot wajahku bergerak kesana kemari membentuk wajah ceria. Sedikit demi sedikit rasa bosan dan jenuh yang tadinya menggerogoti otakku kini mulai bertransmigrasi ke anak lain yang putus asa. Dari kejauhan tampak anak tersebut mendadak teriak karena rasa bosan dan jenuh menggerogotinya.


Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan ngemis demi sesuap nasi telah aku lewati. Para penduduk SD Antonius mulai menyadari kehadiranku yang muncul bersama sinar cahaya lampu senter bertenaga kuda poni. Aku pun cukup populer dikalangan ”anak-anak yang ingin tahu siapa murid baru itu”. Kebetulan ditahun sebelumnya ada anak yang datang dari Batam juga, namanya Maria. Alhasil teman-temanku pada mengira kalo aku adalah saudaranya Maria, padahal jelas-jelas beda, Maria itu perempuan, sedangkan aku,”pria diantara pria”.


Dari sini ada dua hal yang dapat aku pelajari. Yang pertama, bahwa, sesungguhnya pelajaran kelas 6 dan kelas 5 itu beda. Kelas 6 lebih rumit dan complicate dibanding kelas 5. Bahkan kelas 5 aja nilainya udah pas-pasan, apalagi kelas 6, pantas-pantasan aja buat dipandang orang tua. Yang kedua, bahwa, sesungguhnya apa yang tampak bosan diawal, belum tentu bosan diakhir. Apa yang tampak buruk diawal, belum tentu buruk diakhir. Kalo berada disituasi membosankan dan menjengkelkan, jalani saja, ntar lama-kelamaan kan bakal terbiasa...


....Terbiasa bosan...








Tidak ada komentar:

Posting Komentar